Rabu, 03 September 2014

Fungsionalisasi Nilai Ambang Batas



Pengendalian lingkungan kerja dimaksudkan untuk mengurangi pemaparan terhadap bahan yang berbahaya di lingkungan kerja, teknik pengendalian adalah untuk mencegah efek kesehatan yang merugikan di kalangan para pekerja. Betapa kompleksnya bahan-bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi, maka deteksi yang cermat kaitannya dengan kesehatan kerja secara periodik harus terukur. Betapa pentingnya nilai ambang batas yang berfungsi sebagai patokan melindungi tenaga kerja beraktivitas dan proteksi dalam lingkungan kerja. Nilai ambang batas bahan setidaknya bisa dipakai standar apakah seseorang masih mampu secara tetap 8 jam perhari atau 40 jam setiap minggu, dengan persyaratan tidak mengakibatkan gangguan kesehatan atau berpenyakit akibat kerja.

Mengetahui secara tepat nilai ambang batas sangat penting apakah toksik berpengaruh terhadap daya kesehatan dana bereaksi secara faali oleh bahan dengan kadar tertentu. Nilai Ambang Batas (NAB) atau Threshold Limit Value (TLV) adalah kadar tertentu suatu bahan sehingga seseorang masih sanggup menghadapinya secara kurun tertentu dengan tidak ada tanda penyakit kronis.

Nilai ambang batas dapat dipakai pedoman untuk perencanaan dinyatakan aman (no exposure level), disamping itu nilai ambang batas sebagai standardisasi perbandingan. Terdapat ukuran yang lain yaitu kadar tertinggi diperkenankan (KTD) atau maximum allowable concertration (MAC) adalah dimensi di atas NAB kadar ini kadang-kadang dipergunakan untuk kepentingan proses produksi tertentu.

Bahan-bahan Kimia dalam Proses Produksi



Mempelajari toksikologi industri menjadi sangat penting terutama hubungannya dengan penyakit akibat paparan bahan-bahan kimia.

Eksperimentasi chemical hazard memperhatikan kepekaan tenaga kerja sehingga dapat kelainan perilaku dan tindakan berikutnya bisa mengganggu kelangsungan kerja berikutnya.

Karakteristik pemaparan terjadinya respon toksik tergantung pada sifat kimia dan fisik bahan tersebut, situasi pemaparan dan kerentanan sistem biologis dari tenaga kerja tersebut. Informasi mengenai jenis kimia harus memperhatikan Material Safety Data Sheet (MSDS), yang memuat karakteristik bahan, mempelajari proses pengerjaan dan sifat toksik limbah yang ditimbulkannya. Material safety data sheet mencakup cara penyimpanan, cara transportasi, dan cara-cara penggunaan dalam proses berikutnya. Faktor utama yang mempengaruhi toksisitas yang berhubungan dengan pemaparan terhadap bahan-bahan kimia tertentu adalah jalur ke dalam tubuh, waktu pemaparan dan frekuensi pemaparan.

Jalur masuk pemaparan ke tubuh manusia yang paling berbahaya melalui sistem inhalasi yaitu jalur hidung melalui tenggorok dan berakhir di paru-paru. Berikutnya pemaparan lewat percikan zat cair (topical) sehingga akan mengakibatkan iritasi kulit (dermatitis) lebih membahayakan bila zat cair dan terkena mata.

Macam-macam Penyakit Akibat Hubungan Kerja



Melalui keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1993 ditetapkan beberapa macam penyakit akibat hubungan kerja : terdapat tiga puluh satu macam penyakit yang timbul karena hubungan kerja antara lain sebagai berikut :
1. Pnemokoniosis akibat debu mineral membentuk jaringan parut (Asbertos – silokosis) menyebabkan cacat atau kematian.
2. Penyakit paru dan saluran pernafasan yang disebabkan oleh debu logam.
3. penyakit paru dan saluran pernafasan akibat debu kapas, henep.
4. Asma akibat zat perangsang yang berada dalam proses pekerjaan.
5. Alveolitis allergika disebabkan faktor dari luar akibat penghirupan debu organik.
6. Penyakit akibat menghirup berilium atau persenyawaannya yang beracun.
7. Penyakit akibat cadmium atau persenyawaannya yang beracun.
8. Penyakit yang disebabkan fosfor atau persenyawaannya .
9. Penyakit yang disebabkan oleh krom atau persenyawaanya yang beracun.
10. Penyakit yang disebabkan oleh mangan atau persenyawaannya yang beracun.
11. Penyakit yang disebabkan oleh arsen atau persenyawaannya yang beracun.
12. Penyakit yang disebabkan oleh raksa atau persenyawaannya yang beracun.
13. Penyakit yang disebabkan oleh timbal atau persenyawaannya yang beracun.
14. Penyakit yang disebabkan oleh flour dan persenyawaannya yang beracun.
15. Penyakit yang disebabkan oleh karbon disulfida.
16. Penyakit yang disebabkan oleh derivate hologen persenyawaan hidrokarbon alifatik atau aromatik yang beracun.

Mendeteksi Penyakit Akibat Hubungan Kerja



Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1993 tentang penyakit yang timbul karena hubungan kerja. Menyebutkan bahwa untuk lebih meningkatkan perlindungan terhadap tenaga kerja perlu menetapkan beberapa macam penyakit yang timbul karena hubungan kerja.

Penyakit yang timbul karena hubungan kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja. Karena itu setiap tenaga kerja yang menderita penyakit yang timbul karena hubungan kerja berhak mendapat jaminan kecelakaan kerja baik pada saat masih dalam hubungan kerja maupun setelah hubungan kerja berakhir.

Hak atas jaminan kerja yang hubungan kerja telah berakhir, apabila menurut hasil diagnosa dokter yang merawat penyakit tersebut diakibatkan oleh pekerjaan selama tenaga kerja. Dalam keputusan Presiden tersebut terdapat tiga puluh satu penyakit yang timbul atau ditetapkan karena hubungan kerja, diantaranya yang terbanyak akibat toksis bahan kimia dan pengaruh debu. Pemaparan melalui pernafasan (inhalasi) dan iritasi kulit mendominasi dampak pemaparan.

Analisis Lingkungan Tempat Kerja



Koreksi tempat kerja bagian penting dari peran Hiperkes agar diketahui kadar faktor penyebab penyakit hubungan terutama gangguan fisik. Koreksi ini harus dinyatakan oleh seberapa prediksi oleh karyawan yang terpapar dan kemudian dibuktikan dengan pengukuran di tempat kerja. Terutama proses produksi yang menggunakan bahan kimia (chemical hazards). Toksik bahan kimia dalam jumlah relatif kecil dianggap berbahaya bagi kesehatan.

Toksilogi industri dalam hygiene perusahaan dan kesehatan kerja sangat penting peranannya. Nilai ambang batas adalah jalan keluar sebuah pedoman kadar aman sebagai pegangan dalam proses produksi-produksi. Kegunaan NAB sebagai bimbingan praktek yang dinyatakan sebagai pedoman perencanaan pengendalian, sebagian kadar standar perbandingan, sebagai subsitusi bahan-bahan lain untuk mengurangi kadar racun. Dalam kadar tertentu NAB seseorang menderita gangguan kesehatan bereaksi fisiologis berdampak kronis, dan seseorang menderita akut berarti bahan kimia diatas NAB. Jenis debu termasuk berbahaya bagi kesehatan. Penimbunan debu dalam paru-paru menyebabkan seseorang menderita sesak nafas, batuk.

Karena itu penempatan ventilasi penting untuk mengurangi kadar debut di udara, pekerja menggunakan pelindung hidung. Bahan-bahan lain seperti logam dan metaloid juga banyak dipakai dalam industri, timah hitam, air raksa, arsen, nikel, dan fosfor. Disamping bahan-bahan korosif terdiri asam dan basa serta proses penggaraman termasuk bahan berbahaya.